Minggu, 06 Oktober 2013

Rangkaian Clock

Rangkaian Clock memiliki fungsi untuk membuat atau membentu sinyal gelombang atau pulsa yang dilakukan secara terus menerus. Dan biasanya rangkaian clock ini memiliki sifat yang tidak stabi dan seimbang. Rangkaian ini memang termasuk dalam kategori Astabil multivibrator yang menggunakan komponen IC 555. Rangkaian ini biasanya digunakan untuk melakukan input data yang berhubungan dengan rangkaian-rangkaian logika yang memiliki hubungan erat dengan waktu atau sekuensial.

Biasanya rangkaian clock ini bisa ditemukan pada rangkaian-rangkaian seperti flip flop, flasher, shift register dan juga counter. Rangkaian ini bekerja dengan cara mengatur jalannya data yang masuk dengan melakukan penggesaran atau perubahan dari kanan ke kiri dalam bilangan cacah atau linier. Seperti yang disebutkan di awal bahwa rangkaian clock ini merupakan rangkaian Astabil multivibrator yang tentunya memiliki tegangan output yang tidak stabil atau berubah-ubah dengan tidak adanya sinyal masukan yang mengalir di rangkaian tersebut.

Rangkaian Clock



Gambar Skema Rangkaian Clock


Pada gambar rangkaian clock diatas akan dijabarkan mengenai cara kerja dari sistem rangkaian tersebut. Pada simbol C akan naik melebihi kira-kira 2/3 Vcc jika ada tegangan yang masuk ke dalam rangkaian tersebut. Dan ada penggunaan rumus tersendiri jika Kapasitor C mulai dikosongkan dengan menggunakan komponen Rb . Rumus yang terjadi adalah

T : Rb x C


Keluaran atau output akan naik dan juga tinggi jika tegangan di Kapasitor (C) mulai turun hingga mencapai rumus ( Vcc/3). Komponen IC 555 memiliki besar tegangan yang akan naik dan turun secara eksponensial. Gelombang segi empat menjadi bentuk dari keluaran atau output komponan IC 555 ini. Bentuk keluaran yang tidak simetri ini disebabkan waktu yang dibutuhkan untuk pengisian lebih lama dibandingkan dengan waktu untuk pengosongan komponen ini. Dan keadaan keluaran yang rendah lebih cepat dibandingkan dengan kadar keluaran yang lebih tinggi. Dan perhitungan untuk menentukan asimetris dari keluaran atau output rangkaian clock menggunakan rumus :

W : 0.693 (RA + Rb) * C
T : 0.693 * Rb * C
T : W + t


Dan W adalah lebar pulsa sementara t adalah waktu atau lama periode dengan besarnya frekuensi dihitung F : 1/T.

Jumat, 04 Oktober 2013

Rangkaian Penguat Sinyal

Rangkaian Penguat Sinyal ini bekerja untuk memberikan booster atau perkuatan dalam memperoleh sinyal bagi beberapa perangkat elektronik. Rangkaian penguat sinyal tersebut bisa digunakan untuk menguatkan antena, hand phone, radio hingga ke modem yang tentu saja bisa bermanfaat sangat besar. Dan untuk menguatkan sinyal televisi dalam menerima sinyal dari saluran-saluran atau chanel dari televisi ini, tentu rangkaian penguat sinyal ini akan dipasang di antena yang terpasang. Berikut skema rangkaian yang bisa digunakan.

Rangkaian Penguat Sinyal

Gambar Skema Rangkaian Penguat Sinyal


Gambar skema rangkaian di atas bisa memperkuat kinerja antena untuk menangkap siaran-siaran televisi. Biasanya pula rangkaian ini dipasang pada antena RF denagn frekuensi antara 400 MHz dan 900 MHz. Otomatis rangkaian tersebut bisa menerima sinyal dari VHF dan juga UHF serta menangkap sinyal dari frekuensi FM 88 MHz hingga 108 MHz. Untuk membuat rangkaian pada skema rangkaian diatas, anda tidak akan kesusahan mendapatkan komponen yang anda butuhkan. Pasalnya komponen di dalam rangkaian tersebut akan bisa anda temukan dengan mudah. Komponen yang dibutuhkan adalah :

  • R1 : 120 Ohm

  • R2 : 1,5 KOhm

  • R3 : 270 Ohm

  • R4 : 82 KOhm

  • C1 dan C5 : 100 pF

  • C2 dan C3 : 1 nF

  • C4 : 2,2 pF

  • D1 dan D2 : 1N4148

  • Transistor : BFR90, BFR91, BFW92

  • L1 dan 2 : diameter : 5mm, diameter email 0,5mm, 8 lilit


Setelah semua komponen sudah didapat, anda bisa merangkaianya ke dalam PCB sebagai berikut.

Skema Rangkaian Penguat Sinyal

Dan spesifikasi teknis dari rangkaian penguat sinyal ini adalah :

Respon Frekuensi : 40 – 900 MHz
Gain: 20 dB
Tegangan Output Maximum : 90 uV
Impedancsi Input – Output: 75 ohm

Dengan rangkaian penguat sinyal tersebut, tentu saja akan memudahkan kinerja antena untuk menangkap sinyal yang frekuensinya terlalu tinggi atau rendah. Apalagi jangkauannya mencapai VHF dan juga UHF serta bisa melacak keberadaan radio-radio di frekuensi FM.

Rangkaian Alarm Sederhana

Rangkaian Alarm Sederhana ini merupakan sebuah rangkaian yang bisa memberikan tanda bahaya atau peringatan ketika terjadi bencana atau mungkin tindak pencurian dan juga bisa dijadikan alat pengingat waktu. Dan ada bermacam-macam rangkaian alarm sederhana yang bisa digunakan untuk berbagai macam keperluan. Seperti alarm untuk sepeda motor, hingga ke alarm yang dipasangkan ke perangkat lainnya. Salah satu jenis rangkaian alarm sederhana yang bisa anda gunakan yaitu dengan menggunakan timer.

Rangkaian alarm sederhana dengan menggunakan timer ini menggunakan komponen piezoelektrik yang tentunya memiliki fungsi sebagai sensor dalam rangkaian tersebut. Dan biasana pula komponen ini diletakkan secara rekat di salah satu bagian terutama di bagian sayap pintu. Dengan menggunakan tape cello, komponen piezoelektrik direkatkan di dekat rangkaian tersebut.

Rangkaian Alarm Sederhana

Gambar Skema Rangkaian Alarm Sederhana


Pada gambar skema rangkaian alarm sederhana tersebut, digunakan komponen IC NE 555 atau IC 1 yang akan dikonfigurasikan dengan sistem monostable. Dan konfigurasi ini akan bekerja dimana output yang keluar atau dihasilkan dari rangkaian ini meningkat untuk jangka waktu yang tentunya sudah diatur oleh komponen VR 1, resistor R5 dan juga komponen kapasitor pada C3. Sedangkan komponen IC UM 66 atau disimbolkan IC 2, berfungsi sebagai generator melodi yang mengeluarkan sinyal outpur ketika komponen plat piezzo mendapatkan input melalui sensor yang diteruskan dengan diperkuat oleh komponen transistor T1.

Sinyal inpu yang masuk otomatis akan menggerakkan atau memicu waktu di IC NE 555 dan juga output dari pin 3 yang akan mengaktifkan IC UM 66 atau IC 2 yang berfungsi sebagai generator melodi tersebut. Dan suara alarm tersebut akan keluar di area speaker atau LS 1. Suara melodi tersebut akan berhenti sesuai waktu yang telah ditentukan. Rangkaian alarm sederhana dan juga komponen plat piezzo ini diletakkan secara terpisah. Plat piezzo ini diletakkan di area pintu, sementara rangkaian alarm sederhana ini diletakkan di tempat yang bisa anda dengar. Tentunya rangkaian alarm sederhana ini bisa membantu anda jika adaorang yang datang kerumah anda.

Kamis, 03 Oktober 2013

Rangkaian Flasher

Rangkaian Flasher biasanya digunakan untuk perangkat lampu hias atau lampu elektrik. Dan rangkaian flasher ini juga digunakan untuk memberikan fungsi kepada lampu untuk berkedip-kedip sesuai lama waktu yang sudah ditentukan. Anda bisa mencarinya sendiri di toko elektronik atau bengkel motor yang biasanya juga digunakan untuk lampu sen motor. Namun jika ingin lebih murah dan kreatif, tentu saja anda bisa juga merangkai sendiri rangkaian flasher ini.

Rangkaian Flasher

Pada rangkaian flasher tersebut, biasanya memang sering digunakan untuk penggunaan lampu sen di motor atau mobil. Dan rangkaian flasher ini tidak menimbulkan noise serta relat dalam fungsinya mengaktifkan lampu sen. Pada skema gambar diatas, anda bisa melakukan modifikasi pada EMF yang terdapat pada sistem audio seperti gambar diatas. Pada gambar diatas pula, anda bisa menggunakan beberapa komponen untuk merangkai flasher yang anda butuhkan. Beberapa komponen yang bisa anda gunakan adalah :

  • R1 : 6K8

  • R2 : 270K

  • R3 : 22K

  • C1 : 220µF 25V

  • C2 : 10µF 25V

  • D1 : 1N4002

  • Q1 : BC557

  • Q2 : BD139

  • LP1 : 3-24V 10W

  • SW1 : On-Off switch

  • B1 : 3-24V


Dengan menggunakan sumber tegangan sebesar 3 Volt hingga 24 Volt, anda bisa mengaktifkan rangkaian flasher ini yang sering juga dijadikan untuk lampu variasi serta lampu mekanik pada kendaraan bermotor seperti mobil dan juga sepeda motor.

Transistor NPN dan PNP menjadi salah satu komponen utama yang membangun rangkaian flasher tersebut. Proses pengisian dan juga pengosongan pada komponen kapasitor C2 akan menentukan waktu padam dan nyala dari lampu flasher tersebut. Penentuan waktu ini didasarkan kepada pengisian dan pengosongan C2 yang tentu saja dibatasi tegangannya oleh R2 dan R3. Untuk mendapatkan lama waktu lampu nyala dan padam, tentu saja proses pengisian dan pengosongan C2 harus besar. Yang otomatis membuat R2 dan R3 memiliki nilai resistansi yang besar pula. Sementara kejadian sebaliknya akan terjadi jika nilai atau besaran proses di C2 kecil. Maka waktu nyala dan padam lampu akan cepat.

Rangkaian Audio Amplifier

Rangkaian audio amplifier ini biasanya digunakan sebagai penguat audio yang tentunya bisa digunakan untuk radio satu atau pun perangkat audio lainnya. Tentu saja rangkaian audio amplifier ini bisa menguatkan sinyal audio sehingga memiliki suara yang lebih terasa. Anda bisa mendapatkan rangkaian audio amplifier ini di beberapa toko elektronik atau membuatnya sendiri. Rangkaian audio amplifier ini memiliki bentuk rangkaian yang mudah untuk diaplikasikan.

Rangkaian Audio Amplifier

Pada rangkaian audio amplifier tersebut, digunakan komponen semi konduktor yang bernama IC TDA 7052. Dan rangkaian ini bisa dioperasikan dengan penggunan baterai cell. IC TDA 7052 ini berfungsi sebagai penguat audio mono. Dan komponen ini hadir sebagai paket dari DIP atau biasa disebut DI Package. Perangkat atau komponen ini memang didesain untuk dioperasikan menggunakan baterai yang memiliki sumber tegangan yang relatif kecil. Mengapa digunakan komponen IC TDA 7052 ? Ada beberapa keunggulan dan kelebihan dari komponen ini. Pada komponen ini tidak dibutuhkan komponen eksternal guna mendukung daya kerja dari IC TDA 7052 tersebut. Mampu meredam suara klik ketika menekan tombol switch on dan off. IC TDA 7052 ini memiliki tingkat kestabilan yang cukup bagus. Komponen ini juga sangat rendah dalam kebutuhan daya dan juga THD. Dan yang terakhir adalah tidak dibutuhkannya lempeng pendingin untuk IC TDA 7052 ini.

Pada rangkaian audio amplifier ini, komponen IC TDA 7052 ini memiliki nilai atau besaran tetap pada 40 dB. Dan pada rangkaian tersebut IC TDA 7052 akan dipasang dengan prinsip BTL atau Bridge Tied Load untuk mengimbangi pengurangan daya output dan juga memberikan output sebesar 1 – 2 W RMS atau sekitar THD 10 % hingga memiliki beban 8 Ohm dengan input daya sebesar 6 Volt saja. Sementara fungsi dari rangkaian potensio meter digunakan untuk melakukan kontrol volume pada C1 dan C2. Sedangkan kapasitor untuk menyaring besaran tegangan yang masuk dari sumber tegangan seperti baterai.

Rangkaian Kiprok

Rangkaian Kiprok adalah rangkaian yang berfungsi untuk melakukan penyearah arus dari arus AC atau arus bolak balik ke arus DC atau searah. Dan aki menjadi salah satu instrumen utnuk menjaga kestabilan dari rangkaian di kiprok serta motor. Fungsi lain dari Kiprok adalah untuk mengatur dan menjaga kestabilan aliran arus listrik yang akan dikirim ke sistem perapian dari motor tersebut. Posisi kiprok sendiri ada di bagian bawah dari tangki bensin dan juga dipasang rangka motor.

Seringkali fungsi rangkaian kiprok tidak digunakan dikarenakan sudah dihilangkan atau dilepas dari rangka dari mesin tersebut. Dan tentunya akan memberikan efek cepatnya respon tarikan mesin. Namun ada kalanya kita juga bisa memodifikasi kiprok sesuai dengan kebutuhan. Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memodifikasi tersebut tentu saja harus dibarengi dengan pengetahuan mengenai kabel-kabel dari kiprok tersebut. Adapun fungsinya adalah :

  • Kabel hitam befungsi sebagai masa.

  • Kabel merah sebagai klakson, lampu sen.

  • Kabel putih untuk melakukan charging aki.

  • Kabel kuning dengan strip merah untuk menstabilkan arus ke pengapian.


Rangkaian Kiprok


Cukup memutuskan kabel kuning strip merah pada kiprok jika ingin mendapatkan tenaga dari tarikan mesin. Efeknya tentu saja tarikan akan lebih terasa. Untuk membuat lampu depan motor anda lebih terang, kabel putih bisa dimodifikasi atau dilepas dengan mengganti lampu pada motor dengan lampu yang memiliki watt lebih besar. Agar sinarnya menyala terang jika tarikan mesin lebih besar. Bisa juga dipasang saklar aktif untuk mengaktifkan dan juga menon aktifkan fungsi dari charging aki ketika anda ingin menggukan fungsi tersebut. Pasalnya fungsi kabel putih tersebut memang memakan arus yang besar. Tentu saja and abisa memodikasi di stang atau handle motor anda. Gunakanlah bohlam dengan halogen 50 watt lebih. Pasalnya sinar lampu bisa lebih menyala terang dan bersinar lebih maksimal. Anda bisa praktekkan sendiri di rumah untuk melakukan modifikasi dari kiprok tersebut. Tentunya informasi ini bisa membantu anda untuk memudahkan proses modifikasi ini. Demikian penjelasan singkat mengenai rangkaian kiprok, semoga rangkaian kali ini dapat bermanfaat...

Rabu, 02 Oktober 2013

Rangkaian Mikrokontroler

Rangkaian Mikrokontroler dibuat pertama kali oleh pihak intel tahun 1976. Mikrokontroller yang diproduksi pertama kali adalah mikrokontroler 8-bit intel 8748 atau MCS-48. Pengertian dari mikrokontroler sendiri adalah sistem mikroposesor yang terdapa di dalam sebuah chip. Mikrokontroler berisi komponen pendukung yakni memori dan antarmuka I/O. Pengertian lain adalah suatu alat elektronika digital yang punya input, output yang juga memiliki kontrol untuk menyimpan dan menghapus data.

Cara kerja rangkaian mikrokontroller ini, sistem minimum sangat dibutuhkan. Rangkaian elektronika ini terdiri dari komponen dasar yang dibutuhkan oleh uC. Dan tentu saja komponen tersebut bisa bekerja dengan baik. Sistem Minimum bisa berfungsi ganda jika digabungkan dengan rangakain lain seperti running LED atau mungkin rangkaian-rangkaian elektronika lainnya.

Rangkaian Mikrokontroler

Biasanya Rangkaian Mikrokontroler butuh dua buah elemen untuk menjalankan fungsinya. Kedua komponen ini yaitu kristal osilator dan juga rangkaian RESET selain membutuhkan sebuah power supply. Fungsi dari kristal osilator ini sebagai jantungnya. Sementara fungsi dari rangkaian RESET adalah guna membuat uC melakukan pembacaan program. Sedangkan untuk Rangkaian Mikrokontroler AVR, seri 8535 menjadi seri yang sering digunakan. Komponen yang dibutuhkan adalah :

IC mikrokontroler ATMega8535
XTAL 4MHx atau 8MHz
Kapasitor kertas (2 - 22pF dan 1 - 100 nF)
Kapasitor elektrolit 4,7 uF
Resistor (100 Ohm dan 10 KOhm) – 2 buah
Reset pushbutton

Komponen ATMega8535 dilengkapi osilator internal yang tentu saja tidak lagi membutuhkan kristal osilator. Namun sayangnya frekuensi dari osilator ini hanya mencapai 8MHz. Anda bisa merangkainya dengan mencontoh skema gambar diatas setelah mendapatkan semua komponen yang anda butuhkan. Sistem Minimum AVR tentu saja sangat sederhana. Anda harus menghubungkan simbol VCC dan AVCC ke +5 V dan GND serta AGND ke area ground. Sementara komponen pada Pin reset bisa dibiarkan saja. Sistem Minimun ini sebenarnya sudha cukup untuk mengakses seluruh pin input dan output yang terdapat pada rangkaian Mikrokontroler ini. Tentunya anda bisa mencoba sendiri dirumah dan juga praktekkan sendiri.